Kamis, 23 April 2009

Laporan PKL Gondol-Bali


I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kurang lebih 70% wilayah Indonesia terdiri atas laut, yang pantainya kaya akan berbagai jenis sumber hayati dan lingkungan yang potensial. Keadaan ini merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang keberhasilan pada sektor perikanan. Dewasa ini usaha-usaha pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup terus dilakukan. Usaha ini telah menunjukkan kemajuan yang berarti bagi peningkatan kesejahteraan umat manusia serta tercapainya tata lingkungan yang serasi dan seimbang (Sudrajat, 2008)

Salah satu komoditas ekspor non-migas dibidang budidaya laut yang memiliki prospek cerah untuk dikembangkan adalah Pinctada maxima. Hal ini tidak saja ditunjang dengan teknologi yang mudah diterapkan dan jenis tiram yang mudah dibudidayakan, tetapi sumber daya alam yang mengitari ribuan gugus kepulauan di Indonesia sangat potensial sebagai lokasi budidaya. Hanya sampai saat ini industri tiram mutiara di Indonesia masih belum berkembang sebagaimanamestinya (Sutaman, 1993).

Tiram mutiara telah lama dikenal sebagai salah satu produsen mutiara alam yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Beberapa jenis tiram mutiara yang terdapat di perairan Indonesia, antara lain: P. maxima, P. margatifera, P. fucata dan Pteria penguin. Percobaan tentang budidaya mutiara di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 1921 di Buton, Sulawesi Tenggara, waktu itu disebut ’’Celebes’’ (Sudrajat, 2008).

Permasalahannya sekarang adalah adanya kendala dalam pengembangan budidaya tiram mutiara di Indonesia, yakni langkanya tenaga ahli kita yang berkecimpung dalam bidang mutiara ini. Hal ini terbukti dari banyaknya perusahaan mutiara yang sebagian besar adalah patungan dengan perusahaan Jepang. Padahal budidaya tiram mutiara ini mempunyai prospek yang sangat cerah dan dapat diandalkan sebagai sumber devisa negara dimasa yang akan datang sekaligus dapat menunjang program pemerintah dalam pemerataan kesempatan kerja dan penciptaan lapangan kerja baru bagi angkatan kerja di Indonesia. Oleh karena itu, kiranya tepat dan sangat bijaksana apabila tiram mutiara ini terus dipacu dan digalakkan pengembangannya (Sutaman ,1993).

Kegiatan pembenihan merupakan salah satu kunci keberhasilan budidaya. Didirikannya balai benih dibeberapa daerah diharapkan dapat meningkatkan produksi benih, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal ini harus didukung oleh sumber daya alam dan sumber daya manusia yang potensial (Ridho, 2001).

Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut (BBRPBL) Gondol merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kelautan dan Perikanan yang telah berhasil dalam memproduksi benih secara berkesinambungan dan mengembangkan teknologi tiram mutiara (P. maxima). Sebagaimana diketahui bahwa tiram mutiara merupakan komoditas yang masih baru dan belum banyak dibudidayakan, sehingga mendorong penulis melakukan Praktik Kerja Lapang mengenai Teknik Pembenihan Tiram Mutiara (P. maxima) di BBRPBL Gondol Bali.

Tujuan dan Kegunaan

Adapun tujuan dilakukannya Praktik Kerja Lapangan (PKL) ini adalah untuk menambah pengetahuan dan keterampilan sehubungan dengan Teknik Pembenihan Tiram Mutiara (P. maxima).

Kegunaan dilakukannya Praktik Kerja Lapang ini adalah diharapkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta menambah wawasan masalah-masalah yang dihadapi di lapangan sehubungan dengan Teknik Pembenihan Tiram Mutiara (P. maxima).

II. METODOLOGI PRAKTIK

Waktu dan Tempat

Praktik Kerja Lapang ini dilaksanakan dari hari Selasa, tanggal 30 Desember 2008 sampai Rabu, 18 Februari 2009 di BBRPBL Gondol, Dusun Gondol, Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Indonesia.

Metode Praktik

Metode yang dilaksanakan dalam Praktik Kerja Lapang ini dengan melakukan pengambilan data yang meliputi data primer dan data sekunder. Data primer ini secara langsung diperoleh dari pencatatan hasil observasi, partisipasi aktif dan wawancara.

Observasi atau pengamatan secara langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan indra mata tanpa ada alat pertolongan standar lain untuk keperluan tersebut. Dalam PKL ini observasi dilakukan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan manajemen budidaya tiram mutiara (P. maxima) yang meliputi : pemeliharaan induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva dan kultur pakan alami.

Wawancara merupakan proses memperoleh keterangan dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab. Wawancara disini dilakukan dengan cara tanya jawab dengan pembimbing, teknisi dan staf balai mengenai permasalahan dalam budidaya tiram mutiara (P. maxima) khususnya dalam hal manajemen budidaya Tiram Mutiara (P. maxima).

Partisipasi aktif dilakukan dengan cara mengikuti secara langsung beberapa kegiatan dalam budidaya tiram mutiara (P. maxima). Misalnya persiapan benih, persiapan proses pemijahan, pemijahan, pemberian pakan dan lain-lain.

Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan dan dilaporkan orang dari luar penyelidik sendiri yang merupakan data asli. Data sekunder diperoleh dari laporan-laporan terdahulu, studi literatur dan pustaka yang menunjang untuk mencari keterangan ilmiah teoritis dari literatur. Keseluruhan kegiatan PKL ini dapat dilihat pada jadwal kegiatan praktik kerja lapang (Lampiran 3).

.

III. KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTIK

Sejarah Lokasi

Berdirinya Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol adalah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.861/Kpts/12/1980 tanggal 2 Desember 1980, Balai Penelitian Perikanan Darat dibagi tujuh unit struktural, yaitu: Sub Bagian Tata Usaha, Sub Balai Penelitian Depok, Sub Balai Penelitian Jatiluhur, Sub Balai Penelitian Jepara, Sub Balai Penelitian Palembang, Sub Balai Penelitian Maros dan Sub Balai Penelitian Samarinda.

Dalam perkembangannya, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian RI No.613/Kpts/OT.210/1984 pada tanggal 16 Agustus 1984, Balai Penelitian Perikanan Darat dibagi menjadi Balai Penelitian Perikanan Air Tawar (Balitkanwar) dan Balai Penelitian Budidaya Pantai (Balitdita). Dengan surat keputusan ini pula, Sub Balai Penelitian Budidaya Pantai (Sub Balitdita) Gondol berdiri dan menjadi bagian dari Balitdita yang berpusat di Maros, Sulawesi Selatan. Tugas Sub Balitdita adalah melaksanakan penelitian teknologi pembenihan, nutrisi dan makanan alami, ikan karnivora, reptilia dan penelitian mengenai lingkungan. Pada tahun 1992, Sub Balai Penelitian Budidaya Pantai Gondol berubah nama menjadi Sub Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai (Sub Balitkandita) Gondol, tetapi tanpa perubahan struktur organisasi.

Sub Balitkandita Gondol selanjutnya berubah nama menjadi Loka Penelitian Perikanan Pantai (Lolitkanta) Gondol. Perubahan nama ini berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No.797/Kpts/OS.210/12/1994 yang dikeluarkan pada tanggal 1 April 1995 dan bertugas sebagai pelaksana teknis Badan Penelitian Pengembangan Perikanan yang kedudukannya berada langsung di bawah Pusat Penelitian Pengembangan Perikanan Jakarta.

Nama Balai Riset Perikanan Budidaya Laut mulai digunakan mulai tahun 2001 sampai sekarang. Dengan terbentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan, maka sejak tanggal 1 Mei 2001 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan SK No.30. KEP.26A/MEN/2001, Loka Penelitian Perikanan Pantai Gondol naik status dan berubah nama menjadi Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol serta bertugas sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Kelautan dan Perikanan di bidang Riset Budidaya Laut yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Riset Kelautan dan Perikanan.

Balai Penelitian ini memiliki mandat untuk melakukan penelitian dan pengembangan perikanan di Indonesia terutama pembenihan dan pembesaran berbagai komoditas laut. Adapun spesies yang diteliti antara lain: Bandeng (Chanos chanos), Udang vannamei (Litopenaeus vannamei), Kepiting (Scylla paramamosain), Rajungan (Portunus pelagicus), Kakap merah (Lutjanus argentimaculatus), Kerang Abalon (Holiotis squamata), Tiram mutiara (P. maxima), Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), Kerapu lumpur (Epinephelus coioides), Kerapu sunu (Plectropormus leopardus), Kerapu batik (Epinephelus microdon), Kerapu tikus (Cromileptes altivelis), Napoleon (Cheillinus undulatus), Clownfish (Amphiprion ocellaris), Yellowfin tuna (Thunnus albacares), Letter Six (Paracanthurus hepatus), Kuwe (Gnathanodon speciosus), Cobia (Rachycentron canadum) dan yang terbaru adalah penelitian tentang Kerapu pasir (Epinephelus corallicola) dan Umibudo atau Anggur Laut (Caulerpa lentillifera).

Dalam melaksanakan kegiatannya, BBRPBL Gondol telah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik dengan pemerintah maupun dengan pihak swasta dari dalam dan luar negeri. Diantaranya dengan pemerintah Jepang pada tahun 1998 - 2000 melalui Japan International Corporation Agency (JICA). Kerjasama yang dilakukan adalah program untuk teknik pembenihan beberapa jenis ikan laut dan crustacea yang disebut program penelitian dan pengembangan Multi Species Hatchery (MSH).

Pada tahun 2001, kerjasama dengan JICA kembali diperpanjang melalui program pengembangan dan peningkatan teknologi budidaya komoditas laut sampai tahun 2003. Melalui program ini telah dikembangkan teknologi pembenihan Kerapu tikus (Cromileptes altivelis) dengan SR 20,3%-54,5%, baru pertama kali di dunia dan dikembangkan di hatchery skala rumah tangga.

BBRPBL Gondol juga melakukan kerjasama dengan pemerintah Australia melalui ACIAR pada tahun 1999-2003 dengan program peningkatan nutrisi, formulasi pakan dan genetika pada kerapu. Kerjasama BBRPBL Gondol dengan ACIAR kembali dilanjutkan pada tahun 2004. Kali ini ACIAR melakukan kerjasama dengan tiga program sekaligus, tetapi dengan jangka waktu yang berbeda. Program-program tersebut diantaranya adalah pengembangan hubungan dan peningkatan aspek sosial ekonomi serta karakteristik perikanan dengan pemerintah Australia pada tahun 2004-2005; penelitian tentang formulasi pakan yang hemat biaya untuk budidaya kepiting di Australia, Indonesia dan Vietnam pada tahun 2004-2006; serta peningkatan teknologi pembenihan dan pembesaran komoditas laut di kawasan Asia–Pasifik pada tahun 2004 dan berakhir hingga tahun 2007.

Selain itu, pada tahun 2001-2003 BBRPBL Gondol juga melakukan kerjasama dengan pemerintah Denmark melalui Danish Institute for Fisheries Technology and Aquaculture (DIFTA) dengan program Multi Species Production (MSP). Pada tahun 2002-2005, dilakukan kerjasama dengan pihak swasta dalam negeri yaitu PT. Suri Tani Pemuka (STP) dalam bidang pakan ikan untuk pembesaran komoditas air laut.

BBRPBL Gondol kembali melakukan kerjasama dengan pemerintah Jepang pada tahun 2002-2006 melalui OFCF (Overseas Fisheries Corporation Foundation) dengan program penelitian tentang pengembangan ikan Yellowfin Tuna. Selanjutnya, pada tahun 2002–2007 dilakukan kerjasama dengan pemerintah USA melalui Philip Sea Foods yaitu pengembangan dan penelitian komoditas kepiting.

Kerjasama-kerjasama lainnya yang saat ini sedang berlangsung diantaranya adalah dengan CV. Dinar, yaitu program domestikasi dan pembenihan ikan hias laut yang dimulai sejak tahun 2004 dan berakhir tahun 2007. Kerjasama dengan JICA melalui program pengembangan teknologi marikultur berkelanjutan yang dimulai tahun 2005 dan berakhir tahun 2008. Kerjasama dengan pemerintah Jepang, yaitu Kyowa Concrete Industry melalui program budidaya Abalon dan Umibudo (Anggur Laut) sejak tahun 2006 hingga tahun 2009 serta kerjasama dengan PT. Sino Future Indonesia mengenai aplikasi probiotik pada budidaya udang vanamei yang dimulai tahun 2006 dan berakhir tahun 2009.

Sistem Organisasi dan Ketenagakerjaan

Sebagai unit pelaksanaan teknis, BBRPBL-Gondol dipimpin oleh seorang Kepala Balai yang membawahi 3 Bagian, yaitu Urusan Tata Usaha, Sub Seksi Pelayanan Teknis dan beberapa kelompok peneliti dan jabatan fungsional lainnya. Tata kerja di BBRPBL-Gondol diatur dalam keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. Kep. 26/A/Men/2001. Berdasarkan SK Menteri Eksplorasi Laut dan Perikanan No.73 tahun 2000, Balai Penelitian memiliki misi dan tugas khusus dalam melakukan penelitian dan pengembangan tekhnologi pembenihan ikan air laut.


Struktur organisasi BBRPBL Gondol dapat dilihat pada Gambar 1 :

Gambar 1. Struktur Organisasi BBRPBL Gondol-Bali

Pegawai yang ada dapat dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan statusnya yaitu pegawai negeri dan pegawai honorer. Pegawai negeri berjumlah 125 orang dengan tingkatan pendidikan yang berbeda, sedangkan pegawai honorer sebanyak 28 orang. Pegawai honorer merupakan pegawai yang dikontrak oleh JICA dan Danish Institut Fisheries Technologi Aquacult ure (DIFTA).

Tabel 1. Komposisi jumlah pegawai negeri berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan

Jumlah (Orang)

S3

4

S2

10

S1

30

Diploma 2

2

Diploma 3

2

Diploma 4

4

SLTA/Sederajat

57

SLTP

7

SD

6

Sumber: Tata Usaha BBRPBL Gondol-Bali, 2008

Tabel 2. Komposisi jumlah pegawai berdasarkan jabatan fungsional

Jabatan Fungsional

Jumlah (Orang)

Fungsional Peneliti

31

Non Kelas Peneliti

12

Fungsional Teknisi Litkayasa

20

Non Kelas Teknisi Litkayasa

25

Administrasi

37

Tenaga Honorer

28

Jumlah Total Pegawai

153

Sumber: Tata Usaha BBRPBL Gondol-Bali, 2008

Sarana dan Prasarana

A. Sarana

Sarana merupakan peralatan yang harus tersedia saat berlangsungnya suatu kegiatan (proses produksi). Sarana-sarana yang tersedia antara lain :

a. Sistem Penyediaan Listrik



DSC00196

Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol-Bali menggunakan sumber listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang berkekuatan 197 KW. Untuk operasionalnya, BBRPBL Gondol juga dibantu dengan 2 generator pembangkit listrik berkekuatan 100 KW . Tenaga listrik dipakai terutama untuk penerangan yaitu pada jalan, kantor, hatchery, laboratorium, asrama, mushola dan untuk sarana umum lainnya.

Gambar 2. Generator Pembangkit Listrik di BBRPBL Gondol

b. Sistem Penyediaan Air Laut

Air merupakan kebutuhan pokok dalam kegiatan pembesaran, diantaranya adalah air laut. Teknik pengambilan air laut yaitu dengan cara memompa air laut yang diambil dari Laut Bali. Pompa yang digunakan adalah 3 buah pompa yang dipakai secara bergantian. Pompa tersebut masing-masing berkapasitas 24 KW. Pompa ditempatkan pada sebuah rumah pompa di tepi pantai dan pipa dipasang di lepas pantai, berjarak ± 50 meter dari batas



pompa%20air%20laut

minimum surut air laut terendah.

Gambar 3. Pompa Air Laut di BBRPBL Gondol

c. Sistem Penyediaan Air Tawar

Air tawar yang digunakan berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Buleleng dan berasal dari 3 sumur bor. Air tawar yang berasal dari PDAM tersebut ditampung dalam tangki yang berkapasitas 20 m3 dengan ketinggian 10 m.

IMG_1014

Gambar 4. Tangki Air Tawar di BBRPBL Gondol

Air kemudian dialirkan ke tempat-tempat tertentu dengan memanfaatkan gravitasi bumi dan dipompa menggunakan pompa air. Air dari PDAM digunakan hanya untuk kebutuhan hatchery saja, sedangkan air yang berasal dari sumur bor tersebut digunakan untuk kebutuhan kantor, taman, mushola, pencucian kendaraan-kendaraan kantor dan asrama.

d. Sistem Aerasi

Sistem aerasi berasal dari mesin blower 2 KVA sebanyak 2 buah dengan kapasitas 2,21 m3/menit dan digunakan secara bergantian selama 12 jam yang menghasilkan udara atau oksigen yang kemudian disalurkan atau didistribusikan melalui pipa PVC berdiameter 1 inci ke setiap selang aerasi yang terdapat pada setiap bak induk dan larva.



DSC00193

Gambar. 5. Mesin Blower di BBRPBL Gondol

B. Prasarana

Prasarana merupakan fasilitas yang menunjang dan melengkapi sarana. Prasarana yang tersedia di BBRPBL Gondol antara lain :

Tabel 3. Prasarana Produksi BBRPBL Gondol

Prasarana

Jumlah (Unit)

Bangunan :


1. Administrasi

1

2. Lab. Penyakit lingkungan dan Gizi

1

3. Lab. Kimia dan Analisa

1

4. Lab. Produksi dan Makanan Campuran

1

5. Lab. Biologi

1

6. Lab. Bioteknologi

1

7. Tempat Kultur Pakan Alami

4

Sumber Energi Tenaga Listrik :


1. Generator 100 Kw

3

2. Generator 200 Kw

1

3. PLN 197 Kw

3

Komunikasi :


1. Faksimil

1

2. Telepon

3

Transportasi :


1. Kendaraan roda empat

11

2. Kendaraan roda dua

4

3. Kendaraan roda enam

1

4. Speed Boat

2

Sumber: BBRPBL Gondol-Bali, 2008

IV. EVALUASI PRAKTIK KERJA LAPANG

Penyediaan Induk

Di BBRPBL Gondol ini, tiram mutiara yang akan digunakan sebagai induk berasal dari hasil budidaya atau pembenihan. Hal ini sesuai dengan pendapat Winanto (2004) bahwa tiram mutiara yang akan digunakan sebagai induk dapat berasal dari alam maupun dari hasil usaha budidaya atau pembenihan. Akan tetapi induk yang diambil dari alam harus diaklimatisasi dulu karena habitat asal tiram mutiara adalah di dasar laut yang mencapai kedalaman antara 20-60 m. Induk yang berasal dari dasar laut dipindahkan ke tempat budidaya yang lebih dangkal sehingga perlu penyesuaian diri dengan kondisi lingkungan hidup yang baru. Sementara induk yang berasal dari hatchery umumnya langsung dapat dipijahkan karena sudah terbiasa dengan lingkungan budidaya.

Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk tiram mutiara (P. maxima) di BBRPBL Gondol ini yakni dilakukan di Karamba Jaring Apung (KJA) di Teluk Pegametan dengan cara penempatan induk-induk ke dalam keranjang kawat. Hal ini sesuai dengan pendapat Winanto (2004) bahwa pemeliharaan induk di laut dilakukan dengan penempatan induk-induk di dalam keranjang kawat. Keranjang diikat dengan tali polietilen, lalu digantungkan pada rakit apung dengan kedalaman 6-8 meter. Secara periodic setiap 3-4 bulan, induk dibersihkan dari organisme penempel dengan menggunakan pisau atau skrap, lalu disikat. Setelah bersih, tiram dimasukkan kembali ke dalam keranjang pemeliharaan lalu dikembalikan ke lokasi budidaya di laut. Akan tetapi proses pembersihan induk tiram mutiara di BBRPBL ini dilakukan setiap sebulan sekali.




Gambar 6. Keranjang Pemeliharaan Untuk Tiram Mutiara

Seleksi Induk

Seleksi induk di BBRPBL ini dilakukan di Karamba Jaring Apung (KJA) dengan cara diletakkan dengan posisi berdiri atau dorsal pada bagian bawah. Kemudian induk akan membuka cangkang karena kekurangan oksigen. Setelah cangkang terbuka sebagian, segera digunakan alat pembuka cangkang (shell opener) agar cangkang terbuka. Untuk melihat posisi gonad digunakan alat spatula. Gonad biasanya tertutup oleh sepasang insang. Dengan spatula, insang disibakkan sehingga posisi gonad terlihat jelas dan secara visual tingkat kematangannya akan terlihat.

A

Menurut Winanto (2004) bahwa secara morfologi, tiram mutiara dewasa dan telah mencapai matang gonad penuh (fase IV) dapat diketahui. Gonad terlihat menggembung dan seluruh permukaan organ bagian dalam tertutup oleh sel gonad, kecuali bagian kaki. Syarat untuk dijadikan induk berukuran antara 17-20 cm (DVM), cangkang berwarna terang dan tidak rusak atau cacat, baik akibat serangan organisme pengebor (boring organisme) maupun karena penanganan yang kasar. Persyaratan yang paling penting adalah tingkat kematangan gonad. Induk yang baik kondisi gonadnya matang penuh (fase IV).






D:\DiLa\PKL\PIC\Dila praktek\Gonad Tiram Betina\DSC01503.JPG
D:\DiLa\PKL\PIC\Dila praktek\Jantan\DSC00465.JPG




Gambar 7. Perbedaan Gonad Jantan dan Gonad Betina

(A). Gonad Betina Tiram Mutiara

(B). Gonad Jantan Tiram Mutiara

Teknik Pemijahan

Teknik pemijahan yang dilakukan di BBRPBL Gondol ini yakni dengan teknik pemijahan buatan. Rekayasa pemijahan perlu dilakukan jika secara alamiah tiram tidak mau memijah di dalam bak pemijahan. Namun, induk yang akan dipijahkan harus memenuhi persyaratan teknis. Induk tiram mutiara dapat dipijahkan dengan metode manipulasi lingkungan dan rangsangan kimia.

Metode yang biasa digunakan yakni dengan metode kejut suhu (thermal sock). Kejut suhu merupakan metode yang umum digunakan, dalam teknik ini suhu air tempat pemijahan dinaikkan secara bertahap dengan bantuan heater (jika heater tidak ada, bisa menggunakan kejut suhu dengan kejutan air yang panas) mulai dari suhu awal 28oC menjadi 35 oC . Induk-induk biasanya akan memijah setelah 60-90 menit dari perlakuan, mula-mula terlihat induk bereaksi cepat membuka dan menutup cangkang. Menjelang pemijahan induk akan membuka cangkang lebar-lebar dan keluarlah sel-sel gonad yang terlihat seperti keluarnya asap berwarna putih. Selain itu manipulasi lingkungan yang sering dilakukan adalah dengan pergantian air secara terus menerus, hal ini dilakukan agar induk akan merasa stress dan langsung akan memijah.

Penggunaan bahan kimia juga sering dilakukan untuk memijahkan tiram mutiara, tetapi hasil pembuahan atau fertilisasi biasanya kurang baik. Seperti halnya pada manipulasi lingkungan, penggunaan bahan kimia juga bertujuan merubah lingkungan mikro tempat pemijahan. Secara ekstrim bahan kimia dapat dengan segera merubah pH air menjadi asam atau basa, yang bertujuan memberikan shock fisiologis pada induk sehingga terpaksa mengeluarkan sel-sel gonadnya. Jenis bahan-bahan kimia yang umum digunakan antara lain:

Ø Hidrogen Peroksida (H2O2),

Larutan hidrogen peroksida digunakan untuk merendam induk yang akan dipijahkan. Sebelum perlakuan dimulai, sebaiknya induk diaklimatisasi terlebih dahulu selama 10-12 jam. Konsentrasi H2O2 5-7% dilarutkan ke dalam air laut segar. Selanjutnya, induk dimasukkan ke dalam larutan tersebut selama 1-2 jam. Setelah perlakuan, media air diganti dengan cara di sifon atau induk diambil, lalu dipindahkan langsung ke bak pemijahan yang telah diisi air laut bersih. Pada konsentrasi larutan H2O2 3-6 µM (milimolar) dapat memicu induk memijah sekitar 18-20%. Pemijahan biasanya segera terjadi setelah induk dikembalikan ke dalam bak berisi air laut bersih (Winanto, 2004).

Ø Natrium Hidroksida (NaOH)

NaOH dalam bentuk butiran dilarutkan dalam air laut. Larutan NaOH digunakan untuk meningkatkan pH air dari pH 8 menjadi pH 9,0-9,5. Induk yang akan dipijahkan dimasukkan ke dalam larutan NaOH selama 2-3

Ø Amonium Hidroksida (NH4OH),

Ø Amoniak (NH4) dan Trace buffer.

Proses Pemijahan

Selama proses pemijahan, induk jantan biasanya memijah terlebih dahulu, kemudian sekitar 20-60 menit diikuti induk betina mengeluarkan sel-sel telur. Pembuahan terjadi di luar tubuh atau secara eksternal di dalam media air. Proses pembuahan terjadi segera setelah kedua induk memijah. Telur-telur yang belum dibuahi bentuknya agak lonjong menyerupai biji jeruk, sedangkan yang telah terbuahi berbentuk bulat dengan diameter antara 50-60 mikron. Seekor induk matang gonad penuh (TKG IV) bisa menghasilkan telur sekitar 17-20 juta atau kadang lebih. Telur telah terbuahi cenderung di dasar bak. Jika tidak diberi pengudara atau aerasi maka telur yang tidak dibuahi akan tenggelam ke dasar bak, lalu tercampur bersama serpihan jaringan, kotoran (feses) dan lendir



DSC00483

(Winanto, 2004).

Gambar 8. Sperma yang dikeluarkan Oleh Induk Jantan Tampak Seperti Asap Putih, Hal Serupa Juga dialami Oleh Induk Betina



DSC00503




Gambar 9. Proses Pembuahan Sperma Oleh Jantan dan Sel Telur Oleh Bentina

(a). Sel telur masih lonjong (belum dibuahi)

(b). Sperma bergerak menuju sel telur untuk segera dibuahi

Panen Telur

Panen telur dilakukan 1-2 jam setelah pemijahan. Setelah semua telur dibuahi sesegera mungkin dipanen, dikumpulkan dengan menggunakan saringan bertingkat (planktonnet) berukuran 100 µ atau 80 µ, 40 µ dan 20 µ. Selain berfungsi sebagai tempat penampungan telur-telur, saringan juga berfungsi untuk memisahkan antara kotoran dengan telur. Telur-telur yang telah terkumpul kemudian dibilas dengan air laut bersih dan dipindahkan ke dalam bak penetasan atau langsung ke dalam bak pemeliharaan larva. Padat penebaran awal antara 5-7 sel/ml. Biasanya bak penetasan dan pemeliharaan larva dijadikan satu, akan tetapi harus dilakukan sirkulasi air yang optimal.



DSC00509

Gambar 10. Proses Penyaringan Telur Setelah Pemijahan

Pemeliharaan Larva

A. Perkembangan Awal

Proses pembelahan sel terjadi setelah 40 menit dari pembuahan, atau setelah penonjolan polar I, polar II. Lima menit kemudian sel mulai membelah menjadi dua, 13 menit kemudian sel membelah menjadi empat, pembelahan berikutnya menjadi 8 sel, 16 sel dan sel terus menerus menjadi multi sel atau stadia morula setelah 2,5 jam. Pada setiap mikromernya berkembang silia kecil-kecil yang berfungsi membantu embrio bergerak. Stadia blastula dicapai setelah larva berumur 3,5 jam, gerakannya aktif berputar-putar. Pada stadia gastrula (7 jam) bentuknya seperti kacang hijau, bersifat photo-negatif dan bergerak-gerak dengan menggunakan silia. Beberapa menit setelah silia menghilang, maka berakhirlah fase grastula dan mengalami metamorphosis menjadi trochopore, ditandai dengan adanya flagella tunggal pada bagian anterior yang berfungsi untuk bergerak.






Penonjolan polar I
DSC00943

Proses perkembangan embrio tiram mutiara P. maxima dapat dilihat pada Gambar 11 di bawah ini :

1. Penonjolan Polar I 2. Penonjolan Polar II






DSC00945
DSC00951

3. Pembelahan dua sel 4. Pembelahan empat sel






DSC00953
DSC00956

5. Fase Morula 6. Fase Trochofor

B. Perkembangan Larva

Ø Fase Veliger (D Shape Larvae)

Fase veliger atau larva bentuk D (D shape) dicapai setelah larva berumur 18-20 jam dan berukuran 70 µ x 80 µ. Larva fase veliger bersifat fotopositif sehingga tampak berenang-renang di sekitar permukaan air. Dengan melakukan sirkulasi air yang harus benar-benar diperhatikan.

Ø Fase Umbo

Setelah 12-14 hari, larva mengalami metamorphosis menjadi fase umbo (130 µ x 135 µ) yang ditandai dengan adanya tonjolan (umbo) pada bagian dorsal.

Ø Fase Eye Spot (Bintik Hitam)

Fase bintik hitam (eye spot) terjadi pada hari ke-16 dan ke-17 dengan ukuran 200 µ x 190 µ. Posis eye spot berada di sebelah bawah promordia kaki (Winanto, 2004).

Ø Fase Pediveliger

Larva mencapai fase pediveliger atau umbo akhir setelah berumur 18-20 hari dengan ukuran 210 µ x 200 µ. Larva ini mulai mencari tempat untuk menempel atau menetap.

Ø Fase Plantigrade

Fase transisi atau fase akhir kehidupan planktonis larva terjadi pada hari ke 20-22, Ukuran larva plantigrade sekitar 230 µ x 210 µ yang ditandai dengan tumbuhnya cangkang baru disepanjang periphery dan memproduksi benang-benang bisus untuk menempelkan diri pada substrat.

Larva yang sehat dicirikan oleh aktivitas gerak, distribusi dan warna di bagian perut. Larva yang sehat tampak bergerak aktif berputar-putar dengan menggunakan silia dan menyebar merata, terutama dibagian lapisan permukaan dan tengah air. Larva yang tidak sehat atau kondisinya kurang baik akan berada di lapisan air bagian bawah dan di dasar bak. Jika pakan yang dikonsumsi I. galbana dan P. lutheri secara mikroskopis dapat diamati maka tampak larva yang sehat akan banyak makan (kenyang) sehingga perutnya berwarna kuning tua, sedangkan larva yang cukup makan (sedang) bagian perutnya berwarna kuning dan tidak mau makan bagian perutnya berwarna kuning muda.

a




Warna larva dapat bervariasi, tergantung jenis pakan yang dikonsumsi. Namun, larva yang sehat biasanya berwarna cokelat keemasan, terutama di bagian saluran pencernaan (digestive diverticulum). Pada fase awal, warna larva dapat berubah nyata jika mengonsumsi pakan dengan warna yang berbeda. Namun, seiring dengan pertumbuhan larva dan cangkangnya pun semakin tebal maka pengaruh warna pakan tidak terlihat lagi.


Gambar 12. Kondsi Larva yang Sehat dan Tidak Sehat

(a). Kondisi larva yang sehat

(b). Kondisi larva yang tidak sehat

Selama pemeliharaan larva, sebaiknya media air yang digunakan disterilkan dahulu sehingga larva dapat terhindar dari infeksi jamur. Untuk menjaga kualitas air, perlu dilakukan penggantian air setiap 2-3 hari sekali sebanyak 50-100%.

C. Pemeliharaan Spat

Spat ditandai dengan terbentuknya garis lurus engsel serta berkembangnya bagian ujung bawah anterior dan posterior. Benang-benang bisus tumbuh dengan sempurna. Secara utuh bentuk spat seperti tiram mutiara dewasa, hanya garis-garis pertumbuhannya masih terlihat jelas.



DSC00983

Gambar 13. Spat Tiram Mutiara (P. maxima)

Waktu dan lamanya penempelan spat bervariasi, tergantung kondisi lingkungan setempat. Spat menghendaki substrat yang cocok untuk menempel. Secara umum, bahan kolektor yang baik tidak mengeluarkan senyawa kimia jika bereaksi dengan air laut, menarik minat spat untuk menempel dan tidak mengganggu pertumbuhan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kebiasaan atau kesukaan menempel spat adalah kedalaman, bentuk/posisi kolektor dan permukaan substrat yang keras atau kasar.



DSC00183

Gambar 14. Kolektor Untuk Penempelan Spat Tiram Mutiara (P. maxima)

Konstruksi Bak Pemeliharaan








Di BBRPBL Gondol-Bali, bak pemeliharaan larva dan spat terbuat dari fiber dengan volume 4 ton dan ada juga volume 500 liter. Ukuran ini cukup ideal untuk pemeliharaan larva tiram mutiara. Bak pemeliharaan larva maupun spat tiram mutiara yang bervolume 4 ton ini berbentuk segi empat dengan ukuran 2cm x 2cm x 1cm dimana setiap sudut dibuat setengah lingkaran untuk menghindari berkumpulnya larva disekitar sudut dan untuk menghindari menumpuknya kotoran disekitar bagian tersebut. Sedangkan yang 500 liter terbuat dari fiber yang berbentuk lingkaran.

(a) (b)

Gambar 15. Bak Pemeliharaan Larva dan Spat

(a). Bak 500 liter dan (b). Bak 4 Ton

Manajemen Pemberian Pakan

Pemberian pakan pada larva dimulai pada hari pertama saat larva berubah menjadi stadia veliger yakni dengan memberikan pakan berupa Isocrhysis galbana, Pavlova sp atau Chaetoceros sp dengan kepadatan 4.500-5.000 sel/ml. Pada stadia umbo dosis pakan yang dinaikkan menjadi 5.500-6.000 sel/ml dan pada saat stadia spat maka dosisi pakan yang diberikan menjadi 9.500-10.000 sel/ml. Untuk lebih jelas dapat dilihatpada tabel berikut ini :

Tabel 4. Jenis pakan yang diberikan pada tiram mutiara (Pinctada maxima).

Jenis Pakan

Dosis Pakan (sel/ml)

Stadia Veliger

Stadia Umbo

Stadia Eye Spot

Stadia Pediveliger

Stadia Plantigrade

Stadia Spat

Chaetocheros sp







Isochrysis sp

4.500-5.000

5.500-6.000

6.500-7.000

7.500-8.000

8.500-9.000

9.500-10.000

Pavlova sp







Manajemen Kualitas Air

1. Suhu

Perubahan suhu memegang peranan penting dalam aktivitas biofisiologi tiram di dalam air. Suhu yang baik untuk kelangsungan hidup tiram mutiara adalah berkisar 25 – 30oC. Di BBRPBL Gondol suhu ruangan di dalam hatchery tempat pembenihan tiram mutiara yakni 26-27oC yang artinya suhu tersebut masih dikatakan layak untuk tiram mutiara.

2. Derajat Kemasaman (pH)

Derajat kemasaman (pH) di lokasi praktek yakni 8,21, dimana masih layak untuk pertumbuhan tiram mutiara. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2008) bahwa derajat keasaman air yang layak untuk kehidupan tiram P. maxima berkisar antara pH 7,8 - pH 8,6 agar tiram mutiara dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pada prinsipnya, habitat tiram mutiara di perairan adalah dengan pH lebih tinggi dari 6,75. Tiram tidak akan dapat berproduksi lagi apabila pH melebihi 9,00.



IMG_1004

Gambar 16. pH-meter

3. Amoniak

Batas toleransi tiram mutiara terhadap amoniak berkisar antara 0,4-3,1 mg/l. Pada kisaran yang lebih tinggi dari konsentrasi tersebut, dapat menyebabkan gangguan pernafasan dan akhirnya kematian

4. Nitrat dan Nitrit

Kisaran nitrat yang layak untuk organisme yang dibudidayakan sekitar 0,2525 - 0,6645 mg/l dan nitrit sekitar 0,5 - 5 mg/l. Konsentrasi nitrit 0,25 mg/l dapat mengakibatkan stres dan bahkan kematian pada organisme yang dipelihara.

5. Salinitas



IMG_1002

Dilihat dari habitatnya tiram mutiara lebih menyukai hidup pada salinitas yang tinggi. Tiram mutiara toleran pada kisaran salinitas 24-50 ppt, namun hanya untuk jangka waktu yang pendek yaitu sekitar 2-3 hari. Di BBRPBL Gondol salinitasnya adalah 34 ppt, hal ini bisa dikatakan layak untuk kehidupan tiram mutiara mengingat kisaran salinitas yang optimal bagi tiram mutiara adalah 32-35 ppt.

Gambar 17. Refraktometer

6. Fosfat

Kandungan fosfat yang lebih tinggi dari batas toleransi akan mengakibatkan tiram mutiara mengalami hambatan pertumbuhan. Fosfat pada kisaran 0,1001 - 0,1615 mg/l merupakan batasan yang layak untuk normalitas hidup dan pertumbuhan organisme budidaya. Lokasi budidaya dengan fosfat berkisar antara 0,16 mg/l merupakan kandungan fosfat yang baik untuk budidaya mutiara.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama umumnya menyerang bagian cangkang. Hama tersebut berupa jenis teritip, cacing dan polichaeta yang mampu mengebor cangkang tiram. Hama yang lain berupa hewan predator, seperti gurita dan ikan sidat. Upaya pencegahan dengan cara membersihkan hama-hama tersebut dengan manual pada periode waktu tertentu.




Penyakit tiram mutiara umumnya disebabkan parasit, bakteri, dan virus. Parasit yang sering ditemukan adalah Haplosporidium nelson. Bakteri yang sering menjadi masalah antara lain Pseudomonas enalia, Vibrio anguillarum dan Achromobacter sp. Sementara itu, jenis virus yang biasanya menginfeksi tiram mutiara adalah virus herpes. Salah satu upaya yang sering dilakukan agar benih tiram mutiara terhindar dari serangan penyakit yakni dengan melakukan control atau pembersihan biofouling yang menempel pada pocket net, ini dilakukan sebulan sekali.

Gambar 18. Pembersihan Biofouling (Organisme Penempel)




(a)




(b)

Gambar 19. (a) Biofouling yang Menempel Pada Induk Tiram Mutiara

(b) Tiram Mutiara yang Mati

V. PENUTUP

Rangkuman

Dalam proses pelaksanaan Praktik Kerja Lapang di BBRPBL Gondol, dapat disimpulkan bahwa untuk menghasilkan hasil spat atau benih yang baik maka perlu diperhatikan manajemen kualitas air yang baik serta pengelolaan pakan secara tepat dan efisien. Mengingat hal tersebut merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pembenihan tiram mutiara (P. maxima).

Saran

Perlu dilakukan praktek kerja lapang lanjutan untuk mengetahui dan mempelajari teknologi baru yang dapat membantu peningkatan produksi pembenihan Tiram Mutiara (Pinctada maxima).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. Aspek Produksi Budidaya Mutiara. www.google.com. Diakses 14 Januari 2009.

Ridho, R. 2001. Pengaruh Jumlah Inti Blister Terhadap Ketebalan Lapisan Mutiara Pada Tiram Mutiara Pteria penguin. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Sudradjat, A. 2008. Budidaya 23 Komoditas Laut Menguntungkan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sutaman, 1993. Tiram Mutiara. Kanisius. Yogyakarta.

Winanto, 2001. Pembenihan Tiram Mutiara. Departemen Kelautan dan Perikanan, Balai Budidaya Laut. Lampung.

______, 2004. Memproduksi Benih Tiram Mutiara. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar